Lord Rangga Bukan Gila, Dia Cuma Terlalu Cerdas untuk Kita Terima

 
Source: Kompas
    Kalau kamu pernah nonton videonya di awal 2020, kemungkinan besar reaksi pertamamu adalah ketawa. Pria berseragam militer dengan baret biru berbicara dengan penuh keyakinan bahwa Bandung adalah pusat dunia, bahwa PBB dan Pentagon didirikan di sana, dan bahwa seluruh negara di Bumi harus segera mendaftar ulang ke Bandung jika ingin tetap diakui keberadaannya. Absurd? Iya, tentu. Tapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih menarik dari sekadar menertawakan klaimnya: kenapa jutaan orang Indonesia, yang hidupnya sudah penuh dengan masalah nyata dan mendesak, tetap memilih untuk menonton, mendebat, dan mendiskusikan Lord Rangga?

    Kalau dia benar-benar cuma orang gila tanpa substansi apa pun, seharusnya dia tidak relevan. Tapi kenyataannya, dia relevan. Bahkan setelah kematiannya, videonya masih terus viral. Jadi mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan dari fenomena ini.

Siapa Sebenarnya Edi Raharjo?

    Nama aslinya Edi Raharjo. Lahir 12 September 1967 di Brebes, Jawa Tengah. Orang Jawa tulen, bukan Sunda. Pendidikan formalnya dari Sekolah Pertanian Menengah (SPM) Baros, jauh dari kampus elit mana pun. Tapi sebelum terlalu cepat meremehkan, ada fakta yang sering luput dari percakapan tentang dirinya.

    Sebelum viral sebagai Ki Ageng Ranggasasana alias Lord Rangga, Edi sudah lebih dulu punya rekam jejak yang cukup terstruktur. Dia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Bawang Merah Indonesia, sebuah asosiasi nyata di sektor pertanian. Dia juga aktif di Majelis Partai-partai Rakyat Indonesia sejak 1999. Artinya, orang ini paham cara berorganisasi, cara membaca audiens, cara berbicara di hadapan publik, dan cara membangun loyalitas. Dia bukan anak kemarin sore yang tiba-tiba kesambet ide aneh di kamar. Ada pengalaman sosial dan politik yang cukup panjang di balik performanya.

Geger Sepehi dan Luka yang Belum Benar-Benar Sembuh

    Salah satu hal yang membuat narasi Lord Rangga lebih kompleks dari sekadar lelucon adalah pilihan referensi sejarahnya yang sangat spesifik. Nama "Rangga Sasana" yang dia pakai diduga mengacu pada Raden Rangga Prawiradirja III, Bupati Madiun yang dikenal gigih melawan penjajah Belanda dan gugur dalam pertempuran pada 1810. Bukan nama sembarangan yang dicomot dari mana pun.

    Lebih jauh lagi, narasi Lord Rangga sering dikaitkan dengan peristiwa Geger Sepehi tahun 1812, ketika pasukan Inggris di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles menyerbu Keraton Yogyakarta secara paksa dan menjarah ribuan naskah berharga beserta harta benda kerajaan. Ini bukan fiksi. Ini adalah salah satu trauma sejarah terbesar di Nusantara yang dampaknya masih terasa hingga sekarang dalam bentuk hilangnya warisan intelektual yang tak ternilai.

    Ketika Lord Rangga bicara soal "sejarah yang dipelesetkan" dan kekayaan Nusantara yang dicuri oleh kekuatan global, dia sedang memukul satu titik yang memang sakit dalam memori kolektif bangsa ini. Cara mengemasnya terasa jauh dari akademik, bahkan terasa konyol. Tapi substansi keresahan yang dia suarakan itu nyata, dan banyak orang merasakannya meski tidak tahu cara mengungkapkannya.

Logika Emosional Mengalahkan Logika Faktual, Selalu

    Pada 2016, Oxford Dictionary memilih "post-truth" sebagai kata tahun itu, yaitu sebuah kondisi di mana fakta objektif punya pengaruh lebih kecil daripada daya tarik emosional dalam membentuk opini publik. Konsep ini kerap diasosiasikan dengan politik Amerika atau Brexit, tapi sesungguhnya Indonesia sudah lama berada di ekosistem yang sama.

    Ketika narasi resmi tentang sejarah Indonesia sering terasa kering, elitis, dan jauh dari keseharian rakyat biasa, muncullah ruang kosong yang siap diisi siapa pun yang berani bicara dengan percaya diri. Lord Rangga mengisi ruang itu. Klaimnya tentang Bandung sebagai pusat dunia, sertifikat bumi di Vatikan yang masa berlakunya habis pada Agustus 2020, dan keharusan setiap negara untuk mendaftar ulang di Bandung, semuanya memang terdengar tidak masuk akal secara hukum internasional mana pun.

    Tapi bagi orang yang punya keresahan mendalam tentang eksploitasi global, ketidakadilan sistem, dan kehilangan identitas bangsa akibat ratusan tahun kolonialisme, narasi itu punya resonansi emosional yang kuat. Dia tidak menjual fakta. Dia menjual perasaan bahwa ada yang salah dengan tatanan dunia ini dan bahwa leluhur kita jauh lebih hebat daripada yang sejarah resmi ceritakan. Itu adalah pesan yang memang ingin didengar oleh banyak orang Indonesia.

Teori Distraksi 2020: Terlalu Rapi untuk Disebut Kebetulan?

    Bagian ini perlu dibaca dengan kepala dingin. Ini adalah spekulasi, bukan konklusi. Tidak ada bukti konkret yang bisa saya tunjukkan untuk membuktikannya. Tapi pertanyaannya sendiri cukup layak untuk diajukan.

    Lord Rangga viral pada awal 2020, dan awal 2020 adalah salah satu periode paling turbulent dalam sejarah Indonesia modern. Kasus COVID-19 pertama di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020 dan langsung memicu kepanikan nasional. Sebelum itu, publik sudah ribut soal skandal korupsi Jiwasraya yang melibatkan kerugian negara hingga Rp 16,81 triliun menurut temuan KPK. Dan beberapa bulan setelahnya, tepatnya Oktober 2020, gelombang demonstrasi besar-besaran meledak di berbagai kota karena pengesahan UU Cipta Kerja yang kontroversial.

    Di tengah semua keributan itu, berita soal Sunda Empire tetap mendominasi percakapan online. Banyak pengamat media kemudian mempertanyakan apakah viralnya Lord Rangga murni organik, ataukah ada mekanisme, baik algoritmik maupun editorial, yang membiarkan konten ini bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Tidak ada yang bisa menjawab ini dengan pasti. Tapi di era digital, kita sudah cukup tahu bahwa tidak semua tren itu netral.

Dari Sel Penjara ke Sofa Deddy Corbuzier

    Lord Rangga sempat ditangkap atas tuduhan penyebaran informasi palsu. Dia menjalani masa tahanan sebelum akhirnya bebas pada 2021 lewat program asimilasi. Dan yang menarik bukan fakta bahwa dia bebas, tapi apa yang terjadi setelah itu.

    Dia tidak memilih untuk diam dan menghilang. Dia justru tampil di berbagai podcast besar, termasuk di kanal Deddy Corbuzier yang saat itu sudah punya puluhan juta subscriber. Di sana, dia tidak diperlakukan sebagai terpidana kasus hoaks. Dia diterima sebagai tamu yang menarik, bahkan menghibur. Label "badut" yang dulu menempel perlahan mulai terlepas, digantikan oleh label "Lord" dengan konotasi yang lebih berwibawa, meski tetap dalam kerangka satir. Transformasi citra seperti ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada kepekaan terhadap cara kerja narasi di ruang publik di sana, entah dari dia sendiri atau dari orang-orang di sekitarnya.

Ramalan yang Kebetulan Tepat dan Otak yang Haus Pola

    Setelah bebas, komunitas pengikutnya semakin aktif mengaitkan ucapan-ucapannya dengan kejadian nyata di dunia. Perang Rusia-Ukraina yang meletus pada 24 Februari 2022 disebut sudah "diprediksi" olehnya. Kematian Ratu Elizabeth II pada 8 September 2022 dimasukkan juga ke dalam narasi yang sama.

    Secara psikologis, ini adalah contoh klasik dari confirmation bias, yaitu kecenderungan otak manusia untuk aktif mencari pola dan menemukan koneksi bahkan di tempat yang tidak ada koneksi nyata. Semakin kuat keyakinan seseorang terhadap sebuah figur, semakin mudah otak mereka menghubungkan kejadian acak dengan "prediksi" figur tersebut. Tapi fakta bahwa pengikutnya melakukan ini dan bahwa sebagian masyarakat mempercayainya justru membuktikan satu hal: Lord Rangga sudah berhasil membangun ekosistem kepercayaan yang mampu hidup mandiri dari fakta.

Mati Tapi Tidak Pergi: Mitos yang Lebih Kuat dari Orangnya

    Lord Rangga meninggal pada 7 Desember 2022 di Rumah Sakit Mutiara Bunda, Brebes. Penyebab kematiannya adalah komplikasi diabetes dan masalah paru-paru, penyakit yang sangat nyata dan sangat medis. Tapi bagi sebagian pengikutnya, penjelasan semudah itu tidak cukup memuaskan.

    Sebagian dari mereka berspekulasi bahwa dia "dihilangkan" oleh intelijen global karena terlalu banyak membocorkan rahasia. Video lamanya terus beredar di media sosial dengan narasi bahwa dia akan segera kembali atau sebenarnya masih hidup. Ini adalah pola klasik dari figur yang sudah bertransisi dari manusia menjadi mitos. Dan mitos, seperti yang kita tahu dari berbagai tradisi budaya di seluruh dunia, jauh lebih sulit untuk dibunuh daripada orangnya.

Lord Rangga sebagai Cermin yang Tidak Nyaman

    Lord Rangga bukan jenius dalam pengertian akademik. Klaimnya tentang geopolitik dan hukum internasional tidak punya pijakan faktual yang solid. Tapi ada satu hal yang berhasil dia lakukan, yang justru sering gagal dilakukan oleh sejarawan akademik: dia membuat orang biasa merasa bahwa sejarah itu relevan, bahwa mereka adalah bagian dari cerita yang lebih besar, dan bahwa ada ketidakadilan global yang berhak untuk dipertanyakan.

    Fenomena Lord Rangga bukan hanya soal delusi atau konspirasi. Ini adalah cermin dari kegagalan narasi sejarah resmi untuk menjangkau hati rakyat biasa. Ketika kurikulum sejarah terasa seperti sekadar hafalan nama dan tanggal, ketika luka-luka kolonial tidak pernah diproses secara kolektif dan terbuka, maka wajar kalau ada celah besar yang siap diisi oleh siapa pun yang berani bicara dengan percaya diri dan penuh gaya.

    Jadi, ya. Mungkin dia salah soal hampir semua faktanya. Tapi tentang keresahan mendasar yang dia suarakan, dia tidak sepenuhnya salah. Dan itu yang membuat fenomenanya layak untuk dipikirkan lebih serius daripada sekadar dijadikan bahan meme.

Komentar