Tiga Dunia yang Terbelah: Refleksi atas Luka Batin Pendidikan

    Warisan, bagi penulis, bukanlah kata yang selalu bermakna positif. Ia tidak selalu berupa harta atau kebijaksanaan luhur. Terkadang, warisan adalah sebuah luka, sebuah struktur retak yang kita terima begitu saja tanpa menyadari kerapuhannya. Dan ketika penulis menelusuri kembali jejak-jejak pendidikan di era kolonial Hindia Belanda, penulis tidak melihatnya sebagai fondasi yang kokoh, melainkan sebagai arsitektur perpecahan yang sengaja dirancang. Sebuah desain besar yang membelah kita ke dalam tiga dunia yang berbeda, yang bayang-bayangnya, secara menyakitkan, masih terasa hingga hari ini.

    Ini bukan sekadar analisis sejarah; ini adalah perenungan tentang asal-usul mengapa kita, sebagai bangsa, sering kali gagap mendefinisikan identitas intelektual kita sendiri. Mengapa perdebatan antara "ilmu umum" dan "ilmu agama" seolah tak pernah usai? Mengapa ada dikotomi kelembagaan yang begitu kaku antara sekolah umum dan madrasah? Jawaban atas kegelisahan ini, menurut hemat penulis, berakar pada tiga pilar pendidikan kolonial yang dibangun bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk mengontrol: dunia eksklusif anak-anak Eropa, dunia imitasi untuk kaum pribumi terpilih, dan dunia terasing bagi pendidikan Islam.

Source: Kumparan.com


  1. Struktur Pendidikan Kolonial yang Eksklusif Bernama Pendidikan Barat
    Bayangkan sebuah struktur pendidikan kolonial yang eksklusif di tengah. Di dalamnya, anak-anak Eropa, putih, berkeistimewaan, dan fasih berbahasa Belanda, dididik dalam sebuah ekosistem yang steril dari realitas pribumi di sekelilingnya. Itulah Europeesche Lagere School (ELS) dan jenjang lanjutannya. Ini bukanlah sekadar sekolah; ini adalah inkubator kelas penguasa. Kurikulumnya adalah cerminan superioritas Eropa. Mereka belajar geografi Belanda, sejarah para pahlawan Eropa, dan sastra yang mengagungkan peradaban Barat. Bahasa pengantarnya, tentu saja, adalah bahasa Belanda, sebuah kunci emas yang membuka semua pintu menuju universitas di negeri seberang dan posisi puncak di birokrasi kolonial. Bagi penulis, ini adalah bentuk paling murni dari sikap superioritas intelektual. Pendidikan ini tidak dirancang untuk berdialog dengan dunia sekitarnya, melainkan untuk menegaskan jarak. Ia secara sistematis menanamkan gagasan bahwa pengetahuan sejati, kemajuan, dan peradaban adalah monopoli dunia Barat. Anak-anak yang keluar dari sistem ini tidak hanya terdidik, tetapi juga terasing, mereka melihat tanah Hindia Belanda bukan sebagai rumah, melainkan sebagai ladang eksploitasi yang perlu dikelola oleh akal superior mereka.

2. Akses pendidikan yang terbatas untuk Pribumi Terpilih
    Di luar struktur pendidikan kolonial yang eksklusif itu, pemerintah kolonial dengan "murah hati" membuka sebuah pintu,. Namun hanya setengahnya. Inilah dunia pendidikan pribumi dengan sistem Eropa, sekolah-sekolah seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun, jangan salah sangka, pintu ini tidak terbuka untuk semua. Ia hanya bisa dimasuki oleh segelintir anak pribumi dari kalangan bangsawan atau tokoh terkemuka. Tujuannya pun sangat pragmatis dan, terus terang, sinis: menciptakan tenaga kerja terampil tingkat menengah yang loyal. Mereka dibutuhkan sebagai juru tulis, mantri, atau ambtenaar rendahan untuk menjalankan mesin birokrasi kolonial yang masif dengan biaya murah. Kurikulumnya adalah versi "hemat" dari sekolah Eropa, cukup untuk membuat mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Belanda,. Namun tidak cukup untuk membuat mereka berpikir kritis tentang struktur kekuasaan yang menindas mereka. Inilah, menurut penulis, akar dari "mentalitas pegawai" yang hingga kini masih menghantui sebagian masyarakat kita, sebuah pandangan bahwa puncak dari pendidikan adalah menjadi abdi negara, mencari keamanan di dalam sistem, bukan menciptakan sistem baru. Pendidikan ini melahirkan sebuah kelas baru yang tragis: kaum terpelajar yang tercerabut dari akar budayanya sendiri,. Namun tidak akan pernah sepenuhnya diterima di dunia Eropa. Mereka hidup dalam ambiguitas, mengagumi Barat. Namun tetap dipandang sebagai "pribumi".
3. Benteng Pertahanan di Ruang yang Terpojok
    Dan kemudian, ada dunia ketiga, dunia yang paling vital sekaligus paling dimusuhi oleh pemerintah kolonial. Inilah dunia pendidikan Islam, yang berpusat di pondok pesantren, surau, dan langgar. Bagi pemerintah kolonial, lembaga-lembaga ini adalah anomali yang berbahaya. Mereka tidak bisa dikontrol, kurikulumnya tidak bisa didikte, dan bahasanya bukan bahasa Belanda. Pesantren dipandang dengan penuh kecurigaan, dicap sebagai "sarang fanatisme" dan pusat perlawanan. Stigma ini kemudian dilembagakan melalui serangkaian kebijakan represif yang kejam. Bayangkan menjadi seorang kiai pada masa itu. Untuk mengajar mengaji, Anda harus meminta izin pada bupati melalui Goeroe Ordonnantie (Ordonansi Guru), sebuah aturan yang birokratis dan menghinakan. Lalu, ketika madrasah-madrasah mulai tumbuh sebagai respons zaman, pemerintah menerbitkan Wilde Schoolen Ordonnantie (Ordonansi Sekolah Liar), yang memberi mereka kuasa untuk menutup sekolah mana pun yang dianggap "liar" atau tidak sejalan dengan kepentingan kolonial.
    Pemisahan ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah paksaan. Pendidikan Islam secara sengaja didorong ke pinggiran, dilabeli sebagai "tradisional" dan "terbelakang", kontras dengan pendidikan Barat yang "modern" dan "maju". Namun, di sinilah letak ironi terbesar dari sejarah ini. Tekanan yang luar biasa itu tidak memadamkan api pendidikan Islam. Sebaliknya, ia justru menempa baja perlawanan. Di dalam keterasingannya, pendidikan Islam menjadi benteng terakhir penjaga identitas, budaya, dan spiritualitas bangsa. Para kiai dan ulama tidak menyerah. Mereka memilih jalan non-kooperatif, mengajar secara diam-diam, dan menjaga jarak dari kekuasaan kafir. Tekanan ini pula yang, secara paradoksal, memicu gelombang modernisasi dari dalam. Lahirnya organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah bukti paling nyata. K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya secara cerdas mengadopsi metode sekolah Barat, kelas, bangku, kurikulum,. Namun mengisinya dengan ruh tauhid, mengintegrasikan ilmu umum dan agama untuk melahirkan Muslim modern yang berkemajuan. Sementara itu, para kiai NU mengonsolidasikan kekuatan pesantren, memodernisasi sistem madrasah sambil tetap memegang teguh tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai benteng pertahanan.
    Pada akhirnya, ketika penulis merenungkan tiga dunia yang terbelah ini, penulis menyadari bahwa warisan kolonialisme yang paling berbahaya bukanlah gedung-gedung tua atau nama-nama jalan. Warisan itu ada di dalam kepala kita. Ia adalah dualisme yang mendarah daging, yang membuat kita masih sering mempertentangkan iman dan akal, tradisi dan kemajuan. Perjuangan kita hari ini adalah perjuangan untuk menyembuhkan perpecahan itu. Tugas kita adalah meruntuhkan sekat-sekat imajiner yang dibangun oleh kolonialisme dan membangun sebuah jembatan, sebuah sistem pendidikan tunggal yang utuh, yang menghargai ilmu pengetahuan tanpa kehilangan jiwa spiritualnya, yang modern dalam metode. Namun kokoh dalam akarnya. Sebuah pendidikan yang tidak lagi memandang madrasah dan sekolah umum sebagai dua dunia yang berbeda, melainkan sebagai dua sayap dari seekor garuda yang sama, yang terbang menuju cita-cita kecerdasan bangsa yang sejati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sumbu Kehidupan: Narasi Tiga Babak dalam Tata Ruang Yogyakarta